78 Tahun Tanpa Tanah Air: Tiga Generasi Pengungsi Palestina Masih Bertahan di Lebanon

Heru Susetyo, Direktur Eksekutif MINDA, bersama kolega dari End Impunity International Coalition (EIIC) yang berpusat di Prancis dan CENTHRA Malaysia mendatangi lokasi pengungsian warga Palestina Mar Elias di Beirut pada 2 Juli 2026.
Menurut keterangan pimpinan pengungsi Palestina di Mar Elias, ada kurang lebih 500.000 pengungsi Palestina di Lebanon yang tersebar di 15 lokasi.

Mereka pengungsi yang berasal dari era massive expulsion (Nakba) oleh Israel tahun 1948, kemudian juga setelah 1967. Jadi memang sudah ada tiga sampai empat generasi yang tinggal di Lebanon. Namun, tetap saja mereka bukan WN Lebanon dan tidak memiliki kewarganegaraan (stateless).

Pengungsi Palestina juga tidak bisa bekerja pada 71 jenis pekerjaan di Lebanon. Hanya boleh bekerja di sektor informal yang bersifat 3D (dirty, dark and dangerous). Yang lebih mengerikan, UNRWA, badan PBB yang mengurusi pengungsi Palestina, semakin dikebiri mandat dan kewenangan serta kemampuan finansial-nya oleh USA. Sehingga mereka-pun semakin kesulitan untuk men-support pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, Jordan, dan juga Lebanon.

Lebanon sendiri merupakan salah satu negara dengan beban pengungsian paling berat di kawasan Timur Tengah. Krisis ini bukan hanya soal orang yang menyeberang perbatasan, tetapi juga jutaan warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain di dalam negeri atau biasa disebut sebagai Internally Displaced Persons -IDPs).

Selain para IDPs, pengungsi serta pencari suaka yang sudah lebih lama tinggal di Lebanon, adalah pengungsi Palestina dan Suriah. Situasinya masih sangat rapuh, dengan perpindahan penduduk yang terus terjadi, tempat penampungan kolektif yang penuh, dan banyak keluarga hidup dalam kondisi trauma serta ketidakpastian.

Penyebab utama pengungsian adalah eskalasi konflik bersenjata, serangan udara, operasi darat, perintah evakuasi, dan pembatasan gerak di beberapa wilayah oleh Israel. Di Lebanon selatan dan wilayah Bekaa (Bekaa Valley), situasi kemanusiaan dilaporkan memburuk karena keamanan yang terus tidak stabil oleh serangan dari Israel yang masih berlangsung hingga kini.

Banyak pengungsi tinggal di pusat-pusat penampungan kolektif atau perkemahan darurat, dengan akses yang terbatas terhadap perlindungan, layanan dasar, dan kepastian tempat tinggal. UNHCR menggambarkan bahwa banyak dari mereka berada dalam keadaan putus asa dan mengalami trauma, sementara anak-anak sering menjadi kelompok paling rentan.

Di Lebanon, pengungsi Palestina tetap menjadi isu jangka panjang, termasuk mereka yang hidup dalam kondisi ekonomi dan sosial yang sulit. Selain itu, krisis regional juga memengaruhi pengungsi Suriah dan kelompok lain yang sudah lama bergantung pada bantuan kemanusiaan di Lebanon.

Laporan terbaru menyebut lebih dari satu juta orang di Lebanon telah mengungsi akibat eskalasi kekerasan, dan sekitar satu dari lima penduduk negara itu berada dalam status pengungsian. Meski ada pengumuman gencatan senjata (ceasefire) pada April 2026, pengungsian baru tetap terjadi dan krisis kemanusiaan belum mereda. Dan Israel masih tetap berkhianat. Tetap saja menyerang warga sipil di Lebanon.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

“Misi Indonesia untuk Perdamaian Dunia – MINDA” adalah sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mempromosikan perdamaian di seluruh dunia.

Menu Cepat

Home

Artikel

Berita

Support

Hubungi Kami

Info Seminar

Komunitas

Alamat

Gedung Innovation Center, Jl. Raya Cilandak KKO No.14, RT.14/RW.8, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12560

 

© 2024 Minda Organization developed by orbitcreation.com