Sabra dan Shatila: Luka Sejarah yang Masih Menjadi Rumah bagi Pengungsi Palestina

Bersama EIIC yang berpusat di Prancis dan CENTHRA Malaysia, perwakilan MINDA mendatangi Sabra dan Shatila Refugee Camp di Beirut, Lebanon, pada 3 Juli 2026. Pemantauan dari lapangan, Sabra dan Shatila di Lebanon adalah kawasan yang sangat padat dan historisnya terkait erat dengan pengungsian Palestina, terutama setelah gelombang pengusiran pada 1948 dan 1967.

Saat ini, kondisi pengungsian di area itu masih ditandai oleh kepadatan tinggi, kemiskinan, keterbatasan layanan dasar, dan status hidup yang serba tidak pasti bagi banyak keluarga pengungsi Palestina.

Antarbangunan amat rapat jaraknya dengan gang-gang sempit di antaranya. Langit cerah siang hari nyaris tak terlihat karena tertutup oleh jarak antarbangunan yang amat rapat. Kabel listrik, telepon dan internet berseliweran dan berantakan.

Di gang-gang kecil tersebut, orang dan barang berseliweran, motor mondar-mandir, dan orang berjualan apa pun demi menyambung hidup. Ada juga pemandangan warga sipil menyandang senapan mesin dan pandangan mata yang menyelidik dengan curiga.

Kami sempat ditegur saat mengambil foto dan diminta menghapus foto-foto yang diambil di salah satu gang utama di Shatila.

Sabra adalah kawasan permukiman di Beirut Barat, sedangkan Shatila adalah kamp pengungsi Palestina yang berdiri di area yang sama, dan keduanya menjadi simbol penderitaan pengungsi Palestina di Lebanon. Kamp ini menerima banyak pengungsi yang melarikan diri sejak Nakba 1948, lalu semakin tertekan selama perang sipil Lebanon dan invasi Israel ke Lebanon pada 1982, yang berujung pada tuntutan dan kecaman keras terhadap Ariel Sharon (ketika itu Menteri Pertahanan Israel dan kemudian menjadi PM).

Peristiwa paling dikenal adalah pembantaian Sabra dan Shatila pada 16–18 September 1982, ketika milisi Lebanon sayap kanan yang didukung Israel masuk ke kawasan itu dan membunuh ribuan warga sipil Palestina dan Lebanon. Perkiraan korban bervariasi, tetapi sumber-sumber yang dirujuk menyebut angka sekitar 2.000–3.500 orang.

Kondisi di Shatila dan sekitarnya masih sangat berat: kamp padat, hunian sempit, akses pekerjaan terbatas, dan banyak keluarga hidup dalam kemiskinan serta bergantung pada bantuan. Laporan-laporan kemanusiaan dan liputan terbaru juga menunjukkan bahwa anak-anak dan keluarga pengungsi tetap menghadapi tekanan psikologis, ketidakamanan ekonomi, serta keterbatasan fasilitas.

Meskipun demikian, kami melihat masih ada lembaga pendidikan seperti TK dan SD yang berdiri di Shatila dan mendapat bantuan dari lembaga serta negara asing. Juga, klinik kesehatan yang tetap eksis di gang sempit dan gelap.

Sabra dan Shatila bukan hanya lokasi geografis, tetapi juga simbol status pengungsi Palestina yang berlarut-larut di Lebanon. Sejarah kekerasan pada 1982 membuat kamp ini menjadi penanda bahwa pengungsian di Lebanon bukan keadaan sementara, melainkan krisis panjang yang belum selesai.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

“Misi Indonesia untuk Perdamaian Dunia – MINDA” adalah sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mempromosikan perdamaian di seluruh dunia.

Menu Cepat

Home

Artikel

Berita

Support

Hubungi Kami

Info Seminar

Komunitas

Alamat

Gedung Innovation Center, Jl. Raya Cilandak KKO No.14, RT.14/RW.8, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12560

 

© 2024 Minda Organization developed by orbitcreation.com